ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 22 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Sumsel Pemasok Utama Batubara PLTU Suralaya
Kamis, 16 Agustus 2012 | 13:26

PALEMBANG-Sumatra Selatan menjadi pemasok utama batubara Pembangkit Listrik Tenaga Uap Banten, Suralaya, karena menghasilkan bahan tambang dengan kalori yang rendah, kata Kepala Bidang Pertambangan Umum Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumsel Izromaita.

"Batubara asal Sumsel pada umumnya memiliki kalori rendah yakni jenis lignit hingga subbitumitas (5.000-6.500 kkal/kg), sehingga sangat cocok untuk PLTU Suralaya," katanya ketika ditanya penjualan batubara asal Sumsel, di Palembang, Kamis  (16/6).

Berdasarkan kandungan batubara itu, Sumsel melalui PT Tambang Bukit Asam (PTBA) menjadi pemasok sekitar 60-70 persen kebutuhan batu bara PLTU Suralaya sejak tiga tahun terakhir.

"Batubara Sumsel sebagian besar digunakan untuk kebutuhan dalam negeri yakni sekitar 6,1 juta ton pertahun untuk PLTU Suralaya dan 1,2 juta ton pertahun untuk PLTU Bukit Asam," katanya.

Selain fokus memenuhi kebutuhan batubara dalam negeri, Sumsel juga melakukan ekspor ke sejumlah negara seperti Jepang, Malaysia, China, India, dan Korea Selatan.

"Malaysia masih membutuhkan batubara dalam jumlah besar untuk menggerakkan PLTU-nya dan memilih Sumsel karena relatif lebih dekat dibanding Kalimantan," ujarnya.

Sumsel memiliki sekitar 22,24 miliar ton batubara atau 48 persen dari total yang terkandung di Indonesia, tersebar di delapan kabupaten/kota yakni Musi Banyuasin, Banyuasin, Lahat, Musi Rawas, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ilir, Muaraenim, dan Prabumulih.

Menurut dia, kandungan batu bara itu belum tereksploitasi secara maksimal karena belum memiliki infrastruktur yang memadai.

Sumsel masih mengupayakan pembangunan jalur kereta api "double track" yang membawa batu bara dari mulut tambang hingga ke pelabuhan sehingga tidak melintasi jalur lalu lintas umum.

"Selagi belum ada infrastruktur yang memadai maka sulit untuk mengoptimalkan potensi batu bara. Sementara ini, hanya bisa memproduksi sekitar 20 juta ton per tahun," ujarnya.(ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close