ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 22 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Pertamina Olah 'Crude' Domestik 69,1 Juta Barel
Selasa, 26 Juni 2012 | 15:38

JAKARTA-PT Pertamina (Persero) selama periode Januari-April 2012 mengolah minyak mentah yang berasal dari produsen domestik di kilang miliknya sebesar 69,1 juta barel.

Direktur Pengolahan Pertamina, Chrisna Damayanto di Jakarta, Selasa (26/6), mengatakan volume "crude" domestik itu 2,21 persen lebih tinggi dibandingkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) sebesar 67,6 juta barel.

Sebaliknya, menurut dia, selama periode sama, kilang Pertamina mengolah minyak mentah impor sebesar 31,8 juta barel atau 10,42 persen lebih rendah dibandingkan rencana 35,5 juta barel.

"Untuk 'crude' domestik, angka realisasi yang lebih tinggi dibandingkan rencana berarti lebih baik, sementara kalau impor, lebih rendah, itu lebih baik," katanya.

Chrisna melanjutkan, selama periode Januari-April 2012, kilang memproduksikan BBM sebanyak 71,63 juta barel yang terdiri dari premium 21,3 juta barel, minyak tanah 4,4 juta barel, solar 39,88 juta barel, dan avtur 6,05 juta barel.

"Nilai 'yield' (imbal hasil) produksi BBM mencapai 70 persen dari 'intake' minyak mentah dengan produksi terbesar adalah solar," ujarnya.

Produksi bahan bakar khusus seperti pertamax dan pertamax plus mencapai 102 persen dan non-BBM sebanyak 94 persen selama Januari-April 2012.

"Secara keseluruhan, kinerja pengolahan selama Januari-April 2012 menunjukkan hasil yang cukup baik," katanya.

Chrisna juga menambahkan, pihaknya terus melakukan upaya optimasi dengan memperbanyak pengolahan minyak mentah domestik yang murah dan jenis "light sour" yang sesuai batasan operasi kilang.

Optimasi lainnya adalah proses pengadaan "crude" yang dilakukan sesuai dengan "best practises".

"Melalui upaya itu dicapai 'crude cost reduction' kumulatif hingga April sebesar 60,38 juta dolar AS yang setara dengan 'bussiness impact' sebesar 31,2 juta dolar AS," katanya.

Pertamina memiliki enam unit kilang dengan total kapasitas disain 1,031 juta barel per hari.

Keenam kilang itu adalah Dumai 170.000 barel per hari, Musi 118.000 barel, Balongan 125.000 barel, Cilacap 348.000 barel, Balikpapan 260.000 barel, dan Kasim 10.000 barel.

Pertamina berencana membangun dua kilang baru yang masing-masing berkapasitas 300.000 barel per hari dengan target operasi 2018.

Pengamat energi dari ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto mengatakan, pemerintah mesti sungguh-sungguh membangun kilang baru untuk ketahanan energi nasional.

"Selama ini, pemerintah hanya wacana dan tidak serius membangun kilang," katanya.

Menurut dia, pilihan pembangunan kilang ada dua yakni pemerintah membangun sendiri memakai dana pengalihan subsidi BBM atau memberikan jaminan insentif fiskal dan nonfiskal kepada investor yang tengah menjajaki kerja sama dengan Pertamina.

Pri Agung juga mengatakan, Indonesia terakhir membangun kilang pada 1994 yakni Balongan, Jabar.

Padahal, tingkat konsumsi BBM tumbuh rata-rata 6-8 persen per tahun.

Saat ini, konsumsi BBM sudah mendekati 1,1 juta barel per hari.

Sementara, kapasitas produksi BBM hanya 650.000 barel per hari atau terdapat defisit 40 persen setara 450.000 barel per hari.

"Akibatnya, impor BBM menggerus devisa hingga 26,5 miliar dolar AS per tahun," katanya. (ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close