Pertamina Dapat Pinjaman US$ 2,5 Miliar Melalui Obligasi
Kamis, 3 Mei 2012 | 23:36
Dirut Pertamina Karen Agustiawan (tengah) didampingi jajarannya saat menjawab pertanyaan anggota Komisi VII DPR di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Rabu (18/1). Rapat membahas antara lain soal pembatasan konsumsi BBM bersubsidi. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN JAKARTA- PT Pertamina (Persero) memperoleh pinjaman melalui penerbitan obligasi global senilai US$2,5 miliar.
Dirut Pertamina Karen Agustiawan dalam rilisnya di Jakarta, Kamis malam, mengatakan, penawaran obligasi mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) hingga lebih dari 3,7 kali atau mencapai US$9,3 miliar. "Ini menunjukkan investor memberi kepercayaan pada Pertamina," katanya.
Obligasi Pertamina terbagi dalam tenor 10 dan 30 tahun. Untuk obligasi 10 tahun senilai US$1,25 miliar yang akan jatuh tempo pada Mei 2022 memiliki kupon 4,875% pada harga 99,414 dan imbal hasil (yield) 4,95%.
Obligasi 30 tahun senilai US$1,25 miliar jatuh tempo Mei 2042 dengan tingkat kupon 6% pada harga 98,631 dan yield 6,1%. "Tingkat kupon ini terendah dari seluruh obligasi global yang diterbitkan perusahaan Indonesia di pasar keuangan internasional," ujar Karen.
Berdasarkan penyebaran geografis, obligasi bertenor 10 tahun terserap investor Asia 47%, Eropa 24%, dan AS 29%.
Menurut institusi, sebanyak 62% obligasi diserap manajer investasi, 15% perbankan, 8% lembaga asuransi dan dana pensiun, 7% bank sentral dan lembaga pengelola investasi negara, serta 8% bank swasta.
Untuk obligasi 30 tahun, sebanyak 32% diserap investor Asia, 23% Eropa, dan 45% AS. Kemudian 75% terserap manajer investasi, 7% perbankan, 10% lembaga asuransi dan dana pensiun, 2% bank sentral dan lembaga pengelola investasi negara, dan 6% private bank.
Dana obligasi akan digunakan Pertamina untuk belanja modal dan keperluan operasional perusahaan. (gor/ant)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!