ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Penjualan Batubara Barut Capai 2,8 Juta Ton
Senin, 3 September 2012 | 11:05

MUARA TEWEH- Penjualan batubara sejumlah perusahaan pertambangan di Kabupaten Barito Utara (Barut), Kalimantan Tengah hingga Agustus 2012 sebanyak 2.890.391,41 metrik ton.

"Dua juta ton lebih batubara ini merupakan produksi 14 investor pemegang izin kuasa pertambangan atau izin usaha pertambangan (IUP)," kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Barito Utara, Suriawan Prihandi di Muara Teweh, Senin (3/9) .

Suriawan menyebutkan produksi batubara di kabupaten pedalaman Kalteng itu masih mengalami kendala angkutan karena selama ini masih mengandalkan transportasi Sungai Barito.

Angkutan tambang batubara sering terhenti akibat ke dalaman Sungai Barito yang menurun hingga tidak bisa dilayari tongkang dan kapal besar. Sementara kalau debit air naik atau di atas normal, kapal tidak bisa melewati jembatan KH Hasan Basri Muara Teweh karena bisa tersangkut.

"Kendala alam ini membuat angkutan tambang batubara melalui Sungai Barito tidak maksimal. Apalagi dalam sepekan terakhir ini Sungai Barito baru bisa dilayari setelah sebulan lalu mengalami surut sehingga seluruh angkutan kapal bertonase besar tidak bisa berlayar," katanya.

Selain kendala alam, belum maksimalnya produksi batubara sejumlah investor juga akibat perizinan, bahkan puluhan izin perusahaan tambang batu bara di kabupaten pedalaman Sungai Barito pemegang IUP dibatalkan karena harus menunggu perubahan Perda Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalteng.

Pengesahan perubahan perda itu tertunda karena hasil rekomendasi tim terpadu pemerintah pusat tidak sesuai dengan kondisi luas kawasan hutan di Kalteng dan Pemprov Kalteng keberatan hasil rekomendasi itu.

"Kalau RTRWP sudah disahkan, perusahaan-perusahaan itu tetap mendapat prioritas untuk operasional kembali," jelas Suriawan.

Di samping itu, operasional mereka juga terkendala izin pemanfaatan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan dan jalan angkutan tambang sehingga sejumlah investor menghentikan kegiatan untuk sementara.

"Kami mengharapkan masalah perizinan dan jalan tambang ini bisa segera diatasi sehingga pemanfaatan tambang batu bara di daerah ini lebih optimal," katanya Saat ini harga batu bara di pasaran internasional anjlok sehingga sejumlah perusahaan melakukan pengurangan produksi. Akibat turunnya harga batu bara itu akan berdampak pada penjualan tambang emas hitam itu dalam beberapa bulan terakhir dan ke depannya,ujarnya.

Meski mengalami sejumlah kendala, namun penjualan pada periode Januari-Desember 2011 mencapai 2.399.563,22 metrik ton atau meningkat dibanding tahun sebelumnya 2.036.892,83 ton.(ant/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!