ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 Mei 2012
Pencarian Arsip

Pabrik Bioetanol di Lebak Mulai Beroperasi
Rabu, 22 Februari 2012 | 23:25

LEBAK- Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan pabrik bioetanol di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mulai berproduksi, dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).

"Kita yakin produksi bioetanol yang menggunakan bahan baku singkong atau ubi kayu dapat mengantisipasi pasokan BBM nasional," kata Menristek saat menyerahkan pabrik bioetanol itu kepada Pemerintah Kabupaten Lebak di Rangkasbitung, Rabu.

Ia mengatakan, sejak 2008 Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) membangun pabrik Bioetanol di atas satu hektare di Desa Muncang Kopo, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Pabrik bioetanol tersebut berkapasitas 1.000 liter per hari.

Pendirian pabrik bioetanol di Kabupaten Lebak karena bahan baku singkong melimpah juga bisa meningkatkan kesejahteraan bagi petani setempat.

Produksi bioetanol sebagai bahan bakar nabati yang ramah lingkungan, merupakan sumber energi yang menjadi alternatif pengganti BBM. Apalagi, produksi BBM dalam negeri terus menurun dan dipastikan 10 tahun yang akan datang habis.

Karena itu, kata dia, pemerintah harus mencari pengganti BBM lainya, seperti bioetanol dari singkong itu. 

Menurut dia, produksi bioetanol tersebut relatif ekonomis juga penggunaan teknologi sederhana dan mudah dikembangkan (inovasi). Selain itu juga tidak membutuhkan alat pendukung seperti tabung gas elpiji dan proses pengapian sangat aman.

Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya mengaku penyerahan pabrik bioetanol ke pemerintah Kabupaten Lebak dari Menristek itu diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi petani singkong.

Sebagian besar petani di Kecamatan Cikulur mengembangkan tanaman singkong untuk memenuhi kebutuhan pabrik bioetanol. "Produksi bioetanol itu akan dijual ke Pertamina dan setiap hari membutuhkan singkong 3.000 kilogram per hari," katanya. (ant/gor)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close