ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

4 Perusahaan Tambang Batubara Hentikan Produksi
Jumat, 31 Agustus 2012 | 9:53

PALEMBANG-4 perusahaan tambang batubara di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan menghentikan produksi sejak pertengahan Agustus 2012 menyusul penurunan permintaan komoditas itu dari luar negeri.

"Krisis ekonomi global yang melanda Eropa dan negara India serta China berdampak pada sektor pertambangan batubara, meski tidak signifikan namun ada empat perusahaan dari 316 pemilik izin usaha yang memutuskan menghentikan produksi untuk sementara," kata Kepala Bidang Pertambangan Umum Dinas Pertambangan dan Energi Sumsel Izromaita di Palembang, Kamis.

Ketika ditanya pengaruh krisis ekonomi global dengan pertambangan batubara, menurut dia, permintaan produk itu pada perusahaan tambang swasta mengalami kemerosotan mengingat sejumlah industri yang berkembang di China dan India mengurangi jumlah pembangkit.

"Produksi dikurangi sehingga secara langsung terjadi pengurangan permintaan batu bara," ujarnya.

Meski demikian, Sumatera Selatan relatif tidak terpengaruh atas krisis ekonomi global itu, mengingat 80 persen batubara dikonsumsi untuk dalam negeri.

Sebanyak 65 persen diperuntukan kebutuhan PLTU Suralaya, dan 15 persen dipasok ke industri dalam negeri.

"Setidaknya hanya 20 persen yang terpengaruh karena dikirim ke luar negeri (ekspor)," katanya.

Kondisi itu diikuti penurunan harga batu bara yang melanda sejak tiga bulan terakhir.

"Harga batu bara terus merosot karena terjadi kelebihan produksi di pasar internasional, sehingga beberapa perusahaan swasta pertambahan memutuskan untuk berhenti sementara waktu dan menunggu harga stabil," ujarnya.

Cadangan batubara di Sumsel tergolong besar yakni mencapai 22,24 miliar ton atau 48 persen dari total potensi batu bara Indonesia. Cadangan tersebut tersebar di Kabupaten Muara Enim 13,6 miliar ton, Lahat 2,7 miliar ton, OKU dan OKU Timur 0,32 miliar ton dan Kabupaten Musi Rawas sebesar 0,8 miliar ton.

"Saat ini produksi batu barabaru mencapai 20 juta ton per tahun, sedangkan pada tahun 2011 hanya sekitar 10 juta ton per tahun. Jumlah ini akan terus meningkat jika jalur kereta api khusus Tanjung Enim menuju Pelabuhan Tanjung Api-api terealisasi," katanya.(ant/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!