ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

GEMA NUSANTARA:

Pemikiran Sekuler Jokowi-Ahok Wacana Baik
Jumat, 22 Juni 2012 | 1:26

Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan wakilnya Basuki Tjahja Purnama (Ahok) bersama Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta M Taufik (tengah) saat menghadiri temu kader Partai Gerindra di Jakarta, Sabtu (24/3). Dalam acara ini juga dilangsungkan penandatanganan dukungan dari partai-partai yang mengusung mereka maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan wakilnya Basuki Tjahja Purnama (Ahok) bersama Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta M Taufik (tengah) saat menghadiri temu kader Partai Gerindra di Jakarta, Sabtu (24/3). Dalam acara ini juga dilangsungkan penandatanganan dukungan dari partai-partai yang mengusung mereka maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

JAKARTA-Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Pemuda Nusantara (Gema Nusantara), Jay Mulyadi, menilai pemikiran sekuler pasangan Jokowi-Ahok yang memisahkan agama dengan konstitusi merupakan wacana yang baik bagi negara pluralis seperti Indonesia.

"Pemikiran Jokowi-Ahok seharusnya menjadi wacana yang bagus di negara yang pluralis seperti ini," kata Jay dalam diskusi Bedah Pemikiran Jokowi-Ahok di Jakarta, Kamis.

Dikatakan Jay, pemikiran untuk memisahkan antara agama dan konstitusi sama sekali bukan barang haram. "Pemikiran sekuler yang memisahkan dengan tegas antara agama dan konstitusi itu tidak haram," katanya menandaskan.

Hanya saja, lanjut dia, pemikiran itu menjadi ramai karena dilontarkan oleh Ahok, calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang memiliki nama lengkap Basuki Tjahaja Purnama, yang juga disetujui pasangannya, Jokowi, yang kemudian dipolitisasi oleh pihak lain.

Menurut dia, pernyataan Ahok yang menyebut "kita harus lebih patuh pada ayat konstitusi daripada ayat suci" lebih pada konteks kehidupan bernegara.

"Kalau membandingkan kehidupan manusia dari zaman jahiliah, memang berpegang pada ayat suci. Akan tetapi, kalau kehidupan bernegara, tentu memakai ayat konstitusi. Statement Ahok itu menyulut kontroversi akibat pemahaman yang dangkal karena dipenggal kata-katanya," kata Jay.

Menurut Jay, pihaknya justru mendukung gaya kepemimpinan Jokowi-Ahok yang sekuler dan pluralis bagi Jakarta yang memiliki penduduk beragam. "Jakarta bukan hanya orang Betawi dan Jawa, tetapi juga ada dari Papua dan masyarakat internasional," katanya.

Sementara itu, Koordinator Relawan Masyarakat Jakarta (Remaja), Beben Rianto, menyatakan calon lain yang menggembar-gemborkan pernyataan Ahok tersebut hanya ingin menjatuhkan citra Jokowi-Ahok.

"Di sini ada aksi gosok menggosok bahasa agama. Kemudian, diartikan untuk melecehkan agama tertentu. Ini masuk dalam jajahan politisasi untuk menyudutkan Jokowi-Ahok agar namanya tercoreng di depan publik," katanya.

Ia berharap para calon gubernur/wakil gubernur DKI berpolitik dan bertarung secara fair. (ant/gor)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close