Malaka Sari Jadi Percontohan Bank Sampah
Selasa, 21 Februari 2012 | 13:50
Sejumlah warga menyetor sampah kertas dan plastik di Koprasi Bank Sampah, RW 03 Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur, 21 Februari 2011. Foto: Investor Daily/TINO OKTAVIANO JAKARTA - Kelurahan Malaka Sari, Jakarta Timur menjadi percontohan pengelolaan “Bank Sampah" karena dianggap sudah berhasil mengolah sampah sekaligus menjaga lingkungan tetap bersih.
"Sejumlah daerah sudah pernah datang dan mempelajari 'Bank Sampah' di sini," kata Ketua Paguyuban Jakarta Aksi Lingkungan Indah (Jali Jali), Prakoso di Jakarta, Selasa.
Jali Jali adalah paguyuban yang mengelola "Bank Sampah" di Kelurahan Malaka Sari, Jakarta Timur. Paguyuban tersebut telah meraih tiga kali juara umum berturut-turut dalam program Jakarta Green and Clean 2009-2011.
Ia mengatakan, sejumlah daerah yang sudah belajar ke Malaka Sari di antaranya Samarinda, Bali, Tarakan, Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat, dan Prabumulih. Selain itu mereka juga mendampingi mahasiswa yang kuliah di Universitas Nagoya Jepang dalam menyusun tesis mengenai keuntungan dari Bank sampah.
Menurut Prakoso, Bank Sampah menjadi gerakan untuk mengajak masyarakat mengurangi sampah yang tidak terkelola menjadi barang yang punya nilai ekonomi.
Ia menjelaskan dalam setahun, Bank Sampah yang dikelola paguyuban tersebut dapat menyerap 8,8 ton sampah nonorganik dan 11 ton sampah organik selama sembilan bulan dengan perputaran uang selama Februari-Desember 2011 mencapai Rp14.000.880.
Total sampah yang dikelola tersebut tidak hanya di Kelurahan Malaka Sari tapi juga tabungan dari daerah pinggiran Jabodetabek, Tambun dan Bekasi.
Saat ini sebanyak 152 nasabah di Malaka Sari menabung sampah mereka ke Bank Sampah dan 180 nasabah dari daerah lain.
"Target kita adalah sampah di Jakarta Timur berkurang hingga akhirnya bebas sampah, karena jika dibiarkan sampah akan memberikan dampak juga pada perubahan iklim," ujar Prakoso.
Bank Sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah.
warga yang menabung yang juga disebut nasabah memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam.
Sampah yang ditabung ditimbang dan dihargai dengan sejumlah uang nantinya akan dijual di pabrik yang sudah bekerja sama. Sedangkan plastik kemasan dibeli ibu-ibu PKK setempat untuk didaur ulang menjadi barang-barang kerajinan. (ant/gor)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!