KPI Prihatin Orang Tua Tak Dampingi Anak
Senin, 23 Juli 2012 | 13:51
Tayangan Televisi. Ilustrasi (ist) JAKARTA-Orang tua harus bersikap kritis terhadap isi media (literasi media) karena siaran televisi banyak yang tidak sehat untuk anak-anak.
Orang tua perlu melakukan pendampingan terhadap anak-anak saat menonton televisi, kata Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Nina Mutmainnah Armando di Jakarta, Senin (23/7).
Anak-anak dan televisi sangat dekat. Anak-anak rentan terpengaruh dan meniru apa yang ada di televisi sehingga orang tua harus mengawasi anak-anak ketika menonton televisi, ia menjelaskan.
"Anak-anak menonton segala acara tidak hanya tayangan yang khusus untuk mereka, tetapi juga tayangan dewasa. Yang lebih menyedihkan lagi adalah orang tua tidak melakukan pendampingan ketika anak-anak menonton televisi sehingga potensi anak untuk terpengaruh sangat besar," kata Nina.
Selanjutnya Nina mengatakan, anak-anak bisa menonton acara apa saja atau dapat disebut sebagai penonton yang bersifat omnivision, berbagai ragam acara. Padahal sebenarnya belum bisa mengerti mana acara yang tepat untuk mereka.
KPI merupakan lembaga negara independen yang mewakili publik yang memantau dan membuat pedoman siaran bagi lembaga penyiaran di Indonesia. Selain mengatur tentang penyiaran di Indonesia, KPI juga memiliki kewajiban membuat masyarakat mencerna acara televisi secara kritis.
"KPI mengharapkan dan mensosialisasikan gagasan literasi media. Masyarakat terutama orang tua, harus melek media. Masyarakat juga diharapkan bisa memilih tayangan televisi yang sehat untuk keluarga sehingga bisa memilih acara yang tepat untuk anak mereka," tambah perempuan berjilbab tersebut.
Banyak acara televisi yang mengandung unsur kekerasan dan seksual sehingga tidak sehat jika ditonton oleh anak-anak. Anak-anak bisa menonton acara tersebut dengan leluasa karena acara tersebut ditayangkan di jam tayang reguler yakni pukul 03.00-22.00 WIB bukan di jam tayang acara khusus dewasa.
"Frekuensi yang digunakan oleh televisi swasta sebenarnya milik publik, dengan kata lain mereka meminjam frekuensi milik masyarakat untuk melakukan siaran. Jadi masyarakat harus tahu haknya, jika ada acara yang menyalahi aturan, mereka bisa mengadukan ke KPI," kata perempuan berkacamata ini.
Menurut Nina, masyarakat harus bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dan pengaruh yang baik dari televisi karena tidak semua acara di televisi berdampak negatif. Jangan sampai orang tua membiarkan acara yang buruk ditonton anak-anak mereka. Oleh karena itu, orang tua membutuhkan kemampuan untuk menyeleksi mana acara yang baik dan mana acara yang buruk.
"Kemampuan menyeleksi dan sikap kritis untuk menilai acara mana yang baik dan buruk ini seharusnya dimiliki oleh masyarakat terutama orang tua. Inilah yang disebut melek media atau literasi media," kata Nina.
Usaha KPI untuk mensosialisasikan gagasan literasi media tidak dilakukan sendirian. KPI juga mengajak kampus-kampus, organisasi sosial keagamaan, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). (ant/hrb)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!