Garin Ajarkan Cara Hadapi Perbedaan Lewat Serial TV
Minggu, 12 Februari 2012 | 7:00
Garin Ajarkan Cara Hadapi Perbedaan Lewat Serial TV
JAKARTA- Tokoh perfilman Garin
Nugroho ingin menularkan cara menghadapi perbedaan dan resolusi konflik lewat
serial televisi "Tim Bui".
Serial tersebut akan segera tayang setiap hari Minggu
mulai 19 Februari pukul 13.30 WIB s/d 14.00 WIB di Metro TV. "Tim
Bui" menggabungkan kecintaan masyarakat pada olahraga sepak bola dan drama
televisi. Serial dengan 13 episode ini berisi toleransi beragama, kerjasama tim
dan resolusi konflik di masyarakat.
Serial tersebut adalah hasil kerjasama LSM internasional
yang fokus dalam pembangunan perdamaian yaitu Search For Common Ground (SFCG)
dan SET. Film ini didanai oleh United Kingdom Department for International
Development (DFID) dan pemerintah Australia melalui AusAID.
Direktur Asia SFCG Brian D.Hanley mengatakan Tim Bui
adalah revolusi drama televisi di Indonesia karena menawarkan kepada
penonton sebuah alternatif mendidik dari pada program sinetron yang mendominasi
pasar televisi.
"Tim Bui merupakan program pembangunan perdamaian
melalui sepak bola, tak hanya sepak bola kita juga berbicara mengenai perbedaan
dalam penjara,intoleransi pada wanita ," katanya dalam jumpa pers
peluncuran serial itu di Jakarta,Kamis.
Serial ini mengambil setting disebuah lapas fiktif
bernama Lawang Betung, tempat dua geng berdasarkan suku yang selalu
terlibat konflik. Pemain utama yang terlibat diantaranya adalah Agus Kuncoro
sebagai kepala pembina lapas, Rio Alba sebagai Kepala keamanan lapas, Richard
Alino dan Daffi Ariaga sebagai pemimpin geng,Aerly Ashyla sebagai kepala lapas
dan Abby Gallaby sebagai putri Nina sang kalapas.
Garin Nugroho selaku direktur dari SET film
mengemukakan penjara selalu dianggap sebagai muara dari beragam bentuk nilai
yang bertentangan dengan demokratisasi .
"Penjara adalah miniatur persoalan Indonesia,
jadi dia miniatur kebhinekaan miniatur konflik,dan sepak bola adalah ruang
teaternya, kalau sepak bola tak pernah menang maka bangsa kita tak pernah
menang, dan yang paling penting dari film ini adalah ini merupakan pendidikan
untuk warga negara," ujar Garin.
(ant/hrb)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!