Swasembada Kedelai Butuh Tambahan 2 Juta Ha Lahan
Selasa, 7 Agustus 2012 | 16:08
Dua petani memanen kedelai yang ditanam setahun sekali di ladangnya di Kecamatan Nglendah, Kulonprogo,Yogyakarta, Rabu (25/7). Foto: Investor Daily/ ANTARA/Regina Safri/Koz/Spt/12. JAKARTA - Pencapaian target swasembada kedelai 2014 sebesar 2,7 juta ton per tahun membutuhkan tambahan lahan seluas 2 juta hektare (ha) yang dicapai antara lain dengan memanfaatkan lahan terlantar minimal 500 ribu ha.
"Saat ini upaya ini sedang dibahas lintas Kementeriaan dan Badan Pertanahan Nasional," kata Direktur Aneka Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementerian Pertanian Dr Maman Suherman pada diskusi ketahanan pangan yang diselenggarakan Mapiptek, di Jakarta, Selasa.
Upaya lainnya dengan memanfaatkan lahan Perhutani yang berpotensi untuk pengembangan kedelai, dan telah teridentifikasi oleh Litbang Pertanian tersedia potensi kurang lebih 290 ribu ha, di antaranya tahun 2011 telah direalisasikan seluas 11 ribu ha.
"Tapi ini masih diperlukan regulasi dan langkah operasionalnya dalam pemanfaatan areal perhutani untuk tanaman pangan," katanya.
Upaya lainnya dengan menggerakkan petani untuk melakukan penanaman kedelai pada lahan sawah yang diberakan (idle) pada saat musim kemarau, serta pemanfaatan lahan kering maupun lahan perkebunan.
Menurut dia, Indonesia sebenarnya berpotensi besar mencapai swasembada kedelai sesuai target, apalagi Indonesia pernah swasembada kedelai pada 1992 dengan produksi kedelai mencapai 1,87 juta ton dengan luas lahan 1,67 juta ha.
"Sayangnya luas lahan kedelai terus menurun sejak itu dan pada 2012 ini bahkan tinggal 566 ribu ha dengan produksi diperkirakan hanya tinggal 779 ribu ton," katanya.
Menurut pemulia kedelai Batan, Harry Is Maulana, berbagai Lembaga Penyelenggara Pemuliaan sebenarnya juga telah berhasil memperoleh beberapa varietas kedelai.
Selama kurun waktu 90 tahun telah dihasilkan sebanyak 71 varietas. Belum lagi Badan litbang Pertanian telah menghasilkan 53 varietas, Unpad dua varietas, Unsoed 2 varietas, Unej dua varietas, UGM satu varietas, dan Batan enam varietas.
Sementara itu Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Dr Listyani Wijayanti mengatakan, agar masalah kedelai tidak berlarut-larut, perlu ada sinergi nasional untuk mencapai titik kemandirian nasional.
Ketergantungan impor kedelai, lanjut dia, adalah ancaman serius bagi ketahanan pangan, terbukti, ketika Amerika sebagai negara pengekspor utama kedelai ke Indonesia mengalami kekeringan, ternyata berdampak signifikan terhadap pasokan dan harga kedelai dalam negeri. (ant/gor)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!