ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 19 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Pengelolaan Ketahanan Pangan Tak Serius
Sabtu, 28 Juli 2012 | 4:25

JAKARTA-Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengatakan, kenaikan harga kedelai yang berdampak terhadap industri tempe dan tahu akibat ketidakseriusan pemerintah dalam menggerakkan kebijakan ketahanan pangan.

"Seharusnya sejak awal sudah bisa diantisipasi bukan hanya kedelai. Kan saya sudah ngomong dari dulu, kita dari dulu tidak serius mencanangkan ketahanan pangan," kata Megawati saat ditemui di kantor DPP PDIP Jakarta, Jumat (27/7) .

Ia mengatakan, sewaktu dirinya menjabat sebagai presiden, ia pernah mencanangkan swasembada pangan. Kalau dari awal sudah berjalan, mungkin saat ini sudah bisa terealisasikan.

Megawati menambahkan, swasembada pangan baru akan terjadi jika pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat mau melepaskan diri dari ketergantungan impor, sehingga langkah konkret menuju ketahanan pangan baru akan tercapai.

"Ini seperti lagu lama, di mana Indonesia juga pernah mengalami ketergantungan impor. Seharusnya masalah ini sudah tidak terulang kembali, kalau pemerintah bisa mengantisipasinya," kata Mega.

Ia menuturkan, pemerintah perlu berswasembada kalau tidak melakukan suatu langkah konkret, antara lain hentikan impor bagi komoditi-komoditi pertanian.

"Kita harus membangun industri pertanian sendiri, beras, singkong dan sagu. Ini bagian dari budaya kita. Pemerintah jangan hanya bersifat reaktif, tetapi harus mencari akar masalahnya," ujarnya.

Tingkat kebutuhan kedelai di Indonesia sendiri mencapai 3 juta ton per tahun, sementara produksi kedelai dalam negeri hanya mampu memasok sekitar 800 ribu ton per tahun. Untuk pemenuhan kebutuhan nasional, pemerintah mengimpor kedelai.

Pemerintah juga telah mengumumkan penurunan bea masuk bagi kedelai impor dari 5 persen menjadi 0 persen. Namun, langkah tersebut masih diperdebatkan karena kebijakan yang diambil menimbulkan ruang bagi spekulan pasar.(ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close