ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 20 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Melonjaknya Harga Kedelai Momentum RI Jadi Produsen
Rabu, 25 Juli 2012 | 23:54

Dua pekerja pabrik pembuatan tahu dan tempe mogok produksi di sebuah rumahindustri tahu/tempe di kawasan Jakarta Timur, Selasa (24/7). Sejumlah produsen dan pedagang tahu/tempe melakukan aksi mogok selama tiga hari hingga Jumat (27/7), atas kekecewaan mereka terhadap tingginya harga kedelai impor selama enam bulan terakhir. Foto: Investor Daily/TINO OKTAVIANO Dua pekerja pabrik pembuatan tahu dan tempe mogok produksi di sebuah rumahindustri tahu/tempe di kawasan Jakarta Timur, Selasa (24/7). Sejumlah produsen dan pedagang tahu/tempe melakukan aksi mogok selama tiga hari hingga Jumat (27/7), atas kekecewaan mereka terhadap tingginya harga kedelai impor selama enam bulan terakhir. Foto: Investor Daily/TINO OKTAVIANO

JAKARTA- Melonjaknya harga kedelai impor saat ini bisa dilihat sebagai kesempatan emas bagi Indonesia untuk menjadi negara penghasil kedelai, kata pakar tempe asal Inggris Jonathan Agranoff.

"Ini bisa jadi momen untuk Indonesia menjadi negara produsen kedelai," katanya ketika dihubungi Antara di Jakarta, Rabu.

Dikatakannya pemerintah harus bekerja sama dengan pakar pertanian dan institut pertanian yang memiliki benih kedelai untuk ditanam.

"Manfaatkan pakar pertanian dan institut pertanian yang memiliki benih untuk ditanam dan harus didukung pemerintah secara jujur untuk meluaskan lahan buat petani dan menjamin keuntungan petani," katanya.

Ia melihat Indonesia memiliki prospek ekspor kedelai yang cerah bila ada kebijakan pemerintah yang berpihak pada petani. "Harus prioritaskan ke masyarakat, jadi setelah Indonesia mencukupi kebutuhan dalam negerinya, sisanya diekspor," katanya.

Jonathan menyebutkan ada 14 jenis kedelai lokal yang berkualitas dari Indonesia, yakni Wilis, Argomulyo, Burangrang, Anjasmoro, Kaba, Tanggamus, Sinabung, Panderman, Detam-1, Detam-2, Grobogan, Gepak Ijo, Gepak Kuning, SHR/Wil-60.

Menurut dia, kedelai produksi lokal lebih menguntungkan dibandingkan menggunakan kedelai impor dalam memproduksi tempe.

Meski memiliki kedelai berkualitas, berdasarkan data Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), produksi kedelai dalam negeri hanya mampu memproduksi 700.000 ton per tahun.

Padahal, total konsumsi kedelai Indonesia mencapai 2,4 juta ton per tahun. Sehingga sisanya sebanyak 1,7 juta ton ditutup dari impor. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.
Close