ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 21 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Kripik Jamur Madiun Tembus Pasar Luar Negeri
Jumat, 31 Desember 2010 | 11:51

Tingginya permintaan pasar baik lokal maupun ekspor, membuat kami kewalahan karena terbentur oleh terbatasnya bahan baku. Foto (ist) Tingginya permintaan pasar baik lokal maupun ekspor, membuat kami kewalahan karena terbentur oleh terbatasnya bahan baku. Foto (ist)

MADIUN - Keripik jamur tiram putih yang dikembangkan oleh pembudi daya jamur tiram di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, telah mampu menembus pasar luar negeri atau ekspor.

Salah satu pembudi daya jamur tiram putih di Desa Kresek, Tri Sugianto, Jumat mengatakan, tingginya peminat keripik jamur tiram putih ini telah mampu membawanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun permintaan luar negeri.

"Tingginya permintaan pasar baik lokal maupun ekspor, membuat kami kewalahan karena terbentur oleh terbatasnya bahan baku," ujar Tri Sugianto, kepada wartawan.

Menurut dia, bahan baku keripik jamur tersebut merupakan hasil budi daya sendiri di rumahnya, serta dari sejumlah pembudi daya jamur tiram putih di beberapa daerah. Hasilnya, ia mampu menghabiskan bahan baku jamur hingga 1 kwintal lebih dalam setiap harinya.

"Bahan baku jamur 1 kwintal per hari tersebut, bisa menghasilkan keripik jamur hingga mencapai 20 kilogram," terang dia.

Kebutuhan sebanyak itu masih jauh untuk memenuhi permintaan pasar. Hal ini karena jumlah pembudi daya jamur tiram putih di wilayah Madiun masih sangat minim. Padahal, jika digeluti usaha ini cukup menjanjikan. Apalagi budi daya jamur tiram sangatlah mudah.

Untuk membuat keripik jamur, setelah dipanen dari lumbungnya, jamur-jamur tersebut dibersihkan dari bonggolnya. Setelah bersih, jamur dipotong-potong dengan menggunakan gunting, lalu diberi bumbu sesuai selera dan digoreng hingga renyah.

Dikemas dengan berbagai rasa, keripik jamur ini dijual dengan harga Rp8.000,00 per ons. Pangsa pasar camilan keripik jamur tiram ini sendiri cukup menjanjikan, selain pasar antardaerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jakarta, juga mulai merambah pasar luar negeri, di antaranya Malaysia dan Brunai Darusalam.

Pemasaran juga dilakukan di rumahnya sendiri dengan membuka kios. Apalagi lokasi usaha yang dikembangkan Sugiatno sejak dua tahun terkahir ini terletak di jalur kawasan wisata Monumen Kresek. Sehingga banyak wisatawan yang menjadikannya oleh-oleh.

Selain karena rasanya yang cukup berbeda dengan keripik lainnya, camilan ini juga cukup diminati oleh kalangan vegetarian.

Tri Sugianto mengaku, pihaknya juga terobsesi untuk mengembangkan usaha berbagai makanan dari bahan baku jamur tiram putih lainnya, seperti sate jamur, krengsengan, serta sup jamur.

Usahanya ini, juga meningkatkan taraf ekonomi warga desa sekitar dengan penyerapan beberapa tenaga kerja yang dipekerjakan untuk mengurusi lumbung jamur, hingga mengolah jamur menjadi keripik.(ant/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.
Close