ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 28 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Kemhut Jajaki Buka Peluang Ekspor Kayu Bulat
Senin, 22 April 2013 | 16:23

JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemhut) membuka peluang keran ekspor kayu bulat (log) dari hutan tanaman industri (HTI).

“Kami mesti secara intensif melakukan dialog dengan berbagai pihak terkait pembukaan ekspor ini,” kata Sekjen Kemenhut Hadi Daryanto di Jakarta, Senin (22/4).

Dia menjelaskan, pembukaan ekspor log HTI bertujuan memberi insentif bagi pengembangan HTI. Salah satu sebabnya adalah rendahnya kayu HTI dalam negeri, yang saat ini hanya US$ 30 per meter kubik. Padahal, harga kayu HRI di tingkat regional mencapai US$ 70-80 per meter kubik. "Harga sulit terkatrol karena pasar hanya terbatas di dalam negeri," kata dia.

Menurutnya, harga yang rendah bisa menyebabkan perkembangan HTI terhambat. Dia mencontohkan, agresifnya perkembangan hutan tanaman di Jawa karena didukung tingginya harga kayu. Saat ini, harga kayu sengon yang dikembangkan di Jawa bisa mencapai Rp 800-900 ribu per meter kubik.

Pembukaan ekspor kayu bulat HTI, kata Hadi, juga sempat dikaji secara ilmiah oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Meski demikian, Kemhut tidak akan gegabah dengan kebijakan tersebut mengingat Indonesia pernah memiliki pengalaman buruk dengan pembukaan ekspor log yang malah memicu penyelundupan kayu ilegal.

“Saat kita mengikuti saran International Monetery Fund (IMF) untuk membuka ekspor log, yang terjadi adalah pembalakan liar dan perdagangan kayu bulat ilegal marak. Ini tentu mesti diantisipasi,” papar dia.

Untuk itu, tegas hadi, perlu dibuat instrumen yang ketat sehingga pengalaman di masa lalu tidak terulang. Instrumen tersebut, misalnya memastikan kayu yang diekspor hanya kayu dari HTI. Selain itu, perlu ditunjuk pelabuhan tertentu sebagai pelabuhan ekspor sebagai bentuk pengawasan.

Sedangkan untuk memupus kekhawatiran industri di dalam negeri akan kekurangan bahan baku, kayu yang boleh diekspor hanya kayu jenis tertentu yang tidak dimanfatkan industri. “Misalnya jenis akasia dan ekaliptus yang tidak dimanfaatkan oleh industri mebel kita,” kata dia. (Investor Daily/INA/WBP)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.