ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 30 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

IPC Sediakan Informasi Harga Lada bagi Petani
Jumat, 4 Februari 2011 | 16:47

JAKARTA - International Pepper Community (IPC) menyediakan informasi harga lada lokal dan internasional gratis melalui layanan pesan pendek kepada sebagian petani di daerah penghasil lada di Indonesia.

Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI Gusmardi Bustami, yang saat ini menjabat sebagai Ketua IPC, meluncurkan layanan penyebaran informasi harga lada melalui layanan pesan pendek tersebut di Sekretariat IPC Jakarta, Jumat.

"Saat ini, sebagian besar masyarakat sudah memiliki telepon genggam dan ini akan menjadi alat yang efektif untuk menjangkau petani lada," katanya.

Ia menjelaskan, pada tahap awal, informasi harga lada disebarkan ke nomor telepon genggam 100 petani penghasil lada di Lampung dan Bangka yang sudah masuk ke daftar IPC.

Baharudin, seorang petani lada di Lampung, merupakan salah satu penerima layanan informasi harga tanpa bea dari IPC tersebut.

"Saya sudah terima. Ini bermanfaat bagi kami untuk mengetahui informasi harga," kata Baharudin melalui sambungan telepon ketika dihubungi Ketua IPC dari Jakarta.

"Kami berharap informasi harga ini bisa menjadi referensi bagi petani dalam melakukan perdagangan lada," katanya seperti dikutip Antara.

Gusmardi mengatakan selanjutnya IPC akan memperluas layanan kepada petani, kelompok petani, pedagang dan penyuluh pertanian lada di wilayah Indonesia yang lain serta negara anggota IPC lainnya, seperti India, Brasil, Malaysia, Srilanka, dan Vietnam.

Sebelumnya, IPC menerbitkan informasi harga lada mingguan di negara produsen maupun pusat perdagangan dunia seperti New York dan Eropa dalam "Weekly Prices Bulletin."

Dalam sidang tahunan IPC di India bulan November 2010, perwakilan negara-negara anggota IPC sepakat untuk memperluas penyebaran informasi tersebut kepada petani.

Layanan informasi harga lada IPC diharapkan dapat memberikan informasi mengenai harga rata-rata harian lada dari semua negara anggota IPC kepada petani, kelompok petani, pedagang dan penyuluh utama di daerah penghasil lada, sehingga mereka bisa merespon perkembangan harga secara cepat.

Direktur Eksekutif Sekretariat IPC, S. Kannan, menjelaskan, IPC mengumpulkan dan mengolah informasi harga lada yang diperoleh dari asosiasi eksportir yang ada di negara-negara anggota IPC.

Menurut dia, data harga biasanya diterima dan dikumpulkan IPC pada Jumat dan kemudian diolah untuk disebarluaskan kepada petani dan kelompok petani di sentra produksi.

"Karena sebagian data harga lada yang diberikan dalam mata uang lokal negara yang bersangkutan, maka kami mengonversinya dulu ke dolar AS dengan kurs tengah yang ditetapkan bank central masing-masing negara. Di Indonesia, nilainya dikonversi lagi ke rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia untuk kemudian disebarkan melalui layanan pesan pendek kepada petani," jelasnya.


Sejarah

Indonesia berperan penting sebagai pemasok lada dalam sejarah perdagangan internasional.

Pada awal abad ke-17, ketika Belanda membangun pertanian lada di Jawa dan Sumatera, Indonesia merupakan pemasok lada utama dalam perdagangan dunia.

Saat ini pertanian lada di Indonesia kebanyakan dilakukan dalam skala kecil dengan luas lahan kurang dari satu hektar oleh petani.

Luas total lahan pertanian lada di Indonesia sekarang diperkirakan 160 ribu hektare, utamanya berada di Lampung dan Bangka. Beberapa area di Sumatera Selatan, Kalimantan dan Sulawesi kini mulai memegang peran penting sebagai pemasok lada. Sementara jumlah petani lada pada 2010 tercatat sebanyak 328.060 orang.

Selama tahun 2010, produksi lada putih dan hitam Indonesia total sekitar 56 ribu ton dan volume ekspor lada selama kurun waktu itu mencapai 63 ribu ton dengan tujuan utama ke Amerika Serikat, Jerman, dan Singapura.

"Ekspor lebih besar dari produksi karena ada tambahan stok lada dari tahun sebelumnya," kata Gusmardi. (tk)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!