ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Investasi Asing Benih Hortikultura Harus Dibuka
Senin, 5 Desember 2011 | 19:38

BOGOR - Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Bungaran Saragih meminta pemerintah untuk segera membuka kebijakan investasi asing terhadap produsen benih hortikultura agar sektor hortikultura dapat berkembang.

"Kebijakan membatasi kepemilikan asing terhadap produsen benih hortikultura hanya akan membuat Indonesia ketergantungan terhadap benih impor," katanya di Bogor, Senin.

Bungaran mengatakan, kekhawatiran bahwa asing akan mendominasi invetasi di sektor produksi benih hortikultura sangat tidak beralasan. Justru, kehadiran mereka diharapkan akanterjadi transfer teknologi dan manajemen yang pada akhirnya bermanfaat bagi petani.

Lebih jauh mantan Menteri Pertanian ini mengingatkan, produksi hortikultura Indonesia masih jauh tertinggal dibanding Thailand dan Malaysia. Oleh karena itu, solusinya bukan impor hasil akhir, tetapi bagaimana agar teknologi dan manajemen dapat masuk ke Indonesia.

"Industri hortikultura indonesia masih mencari bentuk dan belum berkembang, kita masih harus mengembangkan lagi produk unggulan seperti jagung, tomat, cabai, timun, kol, dan kentang," ujar dia.

Bungaran mengatakan, ketergantungan terhadap benih impor akan membuat petani kesulitan menyediakan benih induk, serta ilmu genetika tanaman semakin tidak berkembang.

Ia mengatakan, belum berkembangnya produsen benih di Indonesia membuat tenaga pemuliaan yang ada diperguruan tinggi (termasuk IPB) banyak tidak terpakai.

Bungaran meminta pemerintah untuk meninjau kembali undang-undang hortikultura yang disahkan 2010, serta baru akan diberlakukan 2014 terutama pasal yang membatasi kepemilikan asing hanya 30 persen.

"Kalau mau yang diatur jumlah tenaga asing yang ada di dalam PMA produsen benih tidak boleh lebih dari 20 persen, sedangkan 80 persen merupakan tenaga kerja lokal," ujarnya.

Dia mengatakan, kebijakan pemerintah yang terlalu ketat akan membuat Indonesia kehilangan ilmu manajenen dan teknologi genetika yang justru negara-negara lain berupaya memperkuat bidang oni.

"Sangat berbahaya kalau persediaan benih hanya mengandalkan impor karena dalam jangka panjang akan membuat sektor ini sulit bersaing dengan produk asing," katanya. (tk/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!