ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Indoco Group Investasi HTI Rp 3 Triliun
Rabu, 6 Juli 2011 | 17:43

JAKARTA - Investor Korsel, PT Indoco group, mengucurkan dana Rp3 triliun untuk membangun hutan tanaman industri (HTI) seluas 200.000 hektare guna mendukung rencana investasi pabrik biomass energi "wood pellet" di Sulawesi Barat (Sulbar) senilai 4 juta dolar AS.

Indoco group melalui PT Bara Indoco dan PT Bio Energy Indoco sampai kini sudah merealisasikan penanaman hutan tanaman seluas 89.595 hektare atau sekitar 45 persen dari total areal yang diminta, kata Sekjen Kemenhut, Hadi Daryanto, di Jakarta, Rabu.

"Kelompok usaha Korea Selatan itu berminat mengembangkan industri energi biomass di Sulawesi Barat. Mereka minta areal konsesi 200.000 hektare untuk mendukung industri energi biomass 'wood pellet' karena potensinya besar," kata Hadi.

Sampai kini, katanya, investor Korsel PT Bara Indoco sudah merealisasikan penanaman di hutan tanaman seluas 68.015 hektare, sedang PT Bio Energy Indoco telah menanam areal konsesinya seluas 21.580 hektare.

Hadi mengatakan investasi tersebut semakin memperkuat posisi Korsel di Industri Kehutanan setelah sebelumnya pengusaha negara itu membangun pabrik "wood pellet" di Wonosobo, Jawa Tengah, dengan kapasitas produksi terpasang 200.000 ton per tahun.

Menurut Hadi, perusahan Korea memang membutuhkan lahan untuk pengembangan "wood pellet energy". Komoditas ini adalah pengganti batu bara untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri besar.

Industri "wood pellet energy" di Wonosobo menggunakan kayu dari hutan rakyat dan kayu dari limbah industri penggergajian, limbah tebangan dan limbah industri kayu lain.

Hasil olahan industri ini dikemas dalam bentuk pellet yang berdiameter 6-10 milimeter (mm) dan panjang 10-30 mm, serta mengandung energi setara 4,7 kilowatt hour (kwh) per kilogram.

Investasi Korsel di bidang ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama pengembangan industri "wood pellet energy" yang diteken Indonesia dan negara itu pada 6 Maret 2009.

"Korsel berkomitmen menurunkan 5 persen impor batu bara dengan berusaha mengembangkan 'wood pellet energy'," katanya.

Salah satu investor Korsel yang telah memproduksi "wood pellet Energy" adalah PT Solar Park Energy. Perusahaan swasta Korsel itu bekerja sama dengan Perum Perhutani mengolah limbah kayu sengon dan kaliandra di Wonosobo.

Sampai 2009, Indonesia baru mampu menghasilkan wood pellet 40.000 ton, sedangkan produksi dunia telah menembus angka 10 juta ton.

Jumlah ini belum memenuhi kebutuhan dunia yang tahun 2010 mencapai 12,7 juta ton.

Sementara itu, investor lokal, Medco Energy, melalui anak perusahaannya PT Selaras Inti Semesta, membangun hutan tanaman seluas 169.400 hektare untuk diproduksi menjadi 200.000 ton chip per tahun.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!