ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Dukung Perikanan Budidaya, Gani Arta Produksi 10 Ribu Keramba Jaring Apung
Oleh Julius Jera Rema | Rabu, 9 Maret 2011 | 18:04

JAKARTA – PT Gani Arta Dwitunggal segera memproduksi 10.000 keramba jaring apung (KJA) tahun ini. Perusahaan yang bergerak pada industri perikanan itu memastikan dapat memenuhi sebagian besar permintaan KJA dari sejumlah daerah di Indonesia. Permintaan KJA yang kian meningkat menandakan ekonomi sektor ini bertumbuh.

“Tahun lalu kami hanya mampu memenuhi kebutuhan KJA kurang lebih 7 ribu lubang. Tetapi tahun ini permintaan semakin banyak dan kami targetkan memproduksi 9 ribu sampai 10 ribu KJA,” kata Budiprawira Sunadim, dirut PT Gani Arta Dwitunggal kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (8/3).

Budi mengatakan, permintaan KJA terbesar datang dari sebagian besar wilayah timur Indonesia. Di daerahdaerah itu terdapat banyak pertambakan perikanan budidaya. Bersamaan dengan pertumbuhan industri perikanan dan didukung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sektor budidaya makin diminati masyarakat. “Teknologi seperti KJA turut menyumbang pertumbuhan perikanan budidaya,” kata Budi.

Dia menjelaskan, KJA yang diproduksi Gani Arta tidak tergolong dalam kategori teknologi tinggi. Sebab, KJA berbahan dasar plastik itu cukup sederhana namun sangat membantu perkembangan dan pertumbuhan ikan, baik pada budidaya laut, air tawar, air payau, danau, maupun sungai. Karena berbahan dasar plastik, kata Budi, KJA yang dihasilkan Gani Arta bisa disesuaikan dengan bentuk (tekstur) kolam atau tambak di mana KJA akan digunakan.

“Sebagaimana prinsip jarring apung, bentuk dan ukurannya harus disesuaikan dengan kondisi tambak,” papar Budi.

Terukur dan Terbatas
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Perikanan Budidaya KKP Ketut Sugama menegaskan, penggunaan KJA pada perikanan budidaya secara prinsip dapat meningkatkan volume produksi. Namun, penggunaan KJA harus terukur dan terbatas agar tidak mengganggu ekosistem komoditas yang dibudidayakan.

“Secara prinsip membantu perikanan budidaya tetapi sekaligus bisa menghambat pertumbuhan dan kesehatan ikan kalau jumlah KJA terlalu banyak digunakan di satu tambak, misalnya,” kata Ketut.

Menurut Ketut, secara teknis terdapat ketentuan mengenai jarak antara satu KJA ke KJA lainnya. Selain jarak antarKJA, ukuran KJA pada sebuah tambak tidak bisa disamaratakan. Mengingat berbahan dasar plastik, kata Ketut, sisa-sisa pakan ikan atau udang yang tidak habis dimakan dipastikan ada di dalam keramba.

“Padahal, idealnya sisa-sisa pakan itu harus larut dan masuk ke ekosistem lingkungan tambak agar berguna bagi ikan atau udang,” kata dia.

Menurut Budi, permintaan KJA dari wilayah timur Indonesia sebagian besar dari Makasar, Nusa Tenggara Timur, Bali, dan Papua. Dari sisi bisnis, kata Budi, PT Gani Arta Dwitunggal yang memproduksi KJA tidak menargetkan keuntungan yang besar dari industri ini. Namun, mengingat ukuran (size) pasar yang tergolong besar karena belum digarap sepenuhnya, peluang industri tersebut cukup menjanjikan di masa depan.

“Industri perikanan tergolong baru dan belum digarap secara menyeluruh. Ini bagus untuk jangka panjang, dan kami tidak menargetkan keuntungan dalam jangka pendek,” kata Budi.

Produksi Budidaya
Sebelumnya, menteri Keluatan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan, penggunaan teknologi standar bagi perikanan budidaya bisa menjamin peningkatan volume produksi. “Jika dahulu orang membudidaya ikan secara tradisional, sekarang bisa menggunakan teknologi yang standard. Ini bisa memacu volume produksi ikan,” kata Fadel.

Apalagi, lanjutnya, volume perikanan budidaya akan ditingkatan dalam beberapa tahun ke depan dibanding volume perikanan tangkap. Perikanan tangkap akan sangat tergantung pada alam sedangkan perikanan budidaya lebih mudah ditingkatkan karena mendapat dukungan teknologi.

Menurut Fadel, terdapat 24 kawasan minapolitan perikanan budidaya yang kini mendukung peningkatan volume produksi. Sementara itu, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan KKP Victor Nikijuluw menambahkan, selain peningkatan produksi di sisi hulu, pihaknya juga gencar untuk industri hilir. Salah satu upaya itu yakni KKP menjajaki kerja sama dengan pengusaha asal Tiongkok dan Vietnam untuk membangun pabrik pengolahan ikan patin.

Menurut rencana, pabrik tersebut akan berlokasi di dua sentra produksi ikan patin yakni Kabupaten Kampar (Riau) dan Kabupaten Muarojambi di Provinsi Jambi. Victor memperkirakan investor dari kedua negara tersebut harus mengucurkan modal sekitar Rp 50 miliar untuk masing-masing pabrik.

“Untuk industri pengolahan patin, kita masih harus belajar dari Vietnam dan Tiongkok,” kata Victor.

Victor mengatakan, ikan patin sangat strategis untuk konsumsi domestic maupun ekspor. Namun pengolahan dan pemasaran masih lemah, misalnya, hanya memproduksi file patin berkualitas rendah. “Kualitas patin kita masih kalah dari Vietnam,” kata dia.

Diketahui, harga jual ikan patin segar hanya sekitar US$ 1 per kg. Padahal, bila ikan patin telah diolah menjadi filet, harganya mencapai US$ 3,4 per kg.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close