ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 19 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Aria Bima Dukung Pembatasan Produk Impor Hortikultura
Rabu, 7 Maret 2012 | 14:35

SOLO - Anggota DPR Aria Bima mendukung kebijakan Menteri Pertanian Suswono yang membatasi pintu masuk buah-buahan dan sayuran atau hortikultura impor.

"Pembatasan itu juga penting untuk melindungi konsumen dari bahaya terpapar produk hortikultura yang memakai bahan pengawet, pupuk kimia melebihi ambang batas, ataupun residu pestisida," kata Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima dalam siaran persnya di Solo, Jawa Tengah, Rabu.

Menteri Suswono menerbitkan Permentan 89/2011 yang mengatur produk hortikultura impor hanya boleh masuk melalui empat pintu yakni Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Pelabuhan Belawan Medan, dan Bandara Soekarno-Hatta Tangerang.

Menanggapi kebijakan Mentan, Aria Bima menjelaskan, selain Pelabuhan Tanjung Priok sudah kelebihan beban (overload) untuk melayani prosedur karantina, pembatasan pintu masuk hortikultura juga demi melindungi petani dari serbuan buah dan sayur impor.

Total impor produk bahan pangan Indonesia, termasuk buah dan sayuran saat ini sudah mencapai 65% dari total kebutuhan.

"Jika kondisi ini dibiarkan terus berlangsung, yang terjadi adalah akan matinya produsen hortikultura kita. Ini membahayakan ketahanan pangan kita," kata Aria Bima asal Fraksi PDI Perjuangan.

Sementara terkait kekhawatiran Gubernur Jawa Timur Sukarwo dipilihnya Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sebagai pintu masuk impor hortikultura akan memukul produk buah Provinsi Jatim, Aria Bima menyarankan Jatim mengeluarkan Perda yang melarang produk hortikultura didistribusikan di wilayahnya.

Jatim, sudah melakukan kebijakan tersebut dalam masalah gula impor, dalam sistem perdagangan bebas sekarang ini, semua negara berusaha melindungi produk pertaniannya, lebih-lebih negara maju.

Produk ekspor pangan Indonesia pun sejak lama terkena hambatan nontarif itu. (ant/gor)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close