Anas Minta Pemerintah Stabilkan Harga Kedelai
Kamis, 9 Agustus 2012 | 23:24
Dua petani memanen kedelai yang ditanam setahun sekali di ladangnya di Kecamatan Nglendah, Kulonprogo,Yogyakarta, Rabu (25/7). Foto: Investor Daily/ ANTARA/Regina Safri/Koz/Spt/12. JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum meminta pemerintah menjaga stabilitas harga kedelai agar produksi serta harga tempe dan tahu tetap stabil.
"Keberadaan tempe dan tahu sangat penting karena merupakan salah satu bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat dari semua lapisan," kata Anas Urbaningrum ketika mengunjungi sentra industri rumahan kripik tempe di Karangsari, Ngawi, Jawa Timur, Kamis.
Anas beserta pimpinan Partai Demokrat mengunjungi produsen kripik tempe, merupakan bagian dari safari Ramadhan Partai Demokrat ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur, pada 6-11 Agustus 2012.
Pimpinan Partai Demokrat yang mendampingi Anas Urbaningrum antara lain, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Eddhie Baskoro Yudhoyono, Bendahara Umum Suharto Utomo, ketua-ketua yakni Melani Leimena Suharli yang juga Wakil MPR RI, Muhammad Jafar Hafsah yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat MPR RI, serta Herman Khaeron yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR RI.
Dalam rombongan tersebut juga ada Wakil Sekjen yakni Saan Mustopa dan Ramadhan Pohan, serta Anggota Dewan Pembina Soekarwo yang juga Gubernur Jawa Timur.
Pada kesempatan tersebut, Anas menegaskan, tempe dan tahu saat ini sudah menjadi ciri khas makanan nasional. "Saya dan Mas Ibas (panggilan Edhie Baskoro), setiap hari makan tempe. Jika sehari saja tidak makan tempe, maka terasa ada sesuatu yang hilang," katanya.
Menurut dia, guna mengatasi krisis kedelai pemerintah harus melakukan penanganan khusus yakni melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan penanaman kedelai, membantu petani melalui penanaman dan menjaga harga kedelai di pasaran tetap stabil.
"Saat ini produksi kedelai nasional hanya mampu memenuhi sepertiga kebutuhan kedelai masyarakat, sehingga dua pertiganya lagi harus diimpor," kata Anas.
Menurut dia, rendahnya produksi kedelai nasional karena petani tidak tertarik menanam kedelai karena harganya kalah bersaing dengan kedelai impor.
Para petani, kata dia, lebih suka menanam padi karena penghasilannya lebih menjanjikan. Anas juga mengingatkan, agar pemerintah lebih memperkuat kewenangan Bulog untuk menstabilkan harga bahan pangan strategis, termasuk kedelai. (ant/gor)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!