ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Agustus, Harga Gabah Turun 0,6-1,1%
Selasa, 4 September 2012 | 13:05

Sejumlah petani warga Desa Kubangpuji, Serang, Banten menyetorkan gabah usai panen kepada seorang pengepul, Rabu (7/3). Harga gabah di tingkat petani turun drastis dari Rp 370 ribu kini hanya Rp 320 ribu per kuintal yang menyebabkan pendapatan petani berkurang karena harga pupuk dan obat tanaman serta ongkos buruh tani tetap tinggi. Foto: Investor Daily/ ANTARA/Asep Fathulrahman/Koz/nz/12 Sejumlah petani warga Desa Kubangpuji, Serang, Banten menyetorkan gabah usai panen kepada seorang pengepul, Rabu (7/3). Harga gabah di tingkat petani turun drastis dari Rp 370 ribu kini hanya Rp 320 ribu per kuintal yang menyebabkan pendapatan petani berkurang karena harga pupuk dan obat tanaman serta ongkos buruh tani tetap tinggi. Foto: Investor Daily/ ANTARA/Asep Fathulrahman/Koz/nz/12

JAKARTA - Rata-rata harga gabah selama Agustus 2012 turun 0,6 -1,1% dibandingkan bulan sebelumnya karena pada akhir Juli lalu mulai memasuki musim panen padi musim kemarau (MK) atau awal musim panen kedua.

"Panen raya padi biasanya terjadi pada Maret hingga Mei, kemudian musim panen kedua pada musim kemarau dari Juli sampai September. Rata-rata harga gabah pada Agustus tahun ini turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya disebabkan pada akhir Juli memasuki awal musim panen kedua," kata Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), Nur Gaybita, di Jakarta, Selasa.

Harga gabah, menurut Nur, akan kembali meningkat pada Oktober 2012 hingga Januari 2013 karena dalam musim tanam. "Pada periode Oktober hingga Januari, biasanya akan ditandai dengan adanya operasi pasar (OP) beras oleh Perum Bulog menyusul harga beras yang mengalami kenaikan," ujarnya.

Harga gabah di Indonesia, lanjut Nur, lebih tinggi dibandingkan dengan harga di Vietnam dan Thailand. Hal tersebut disebabkan sistem pertanian di kedua negara sudah menggunakan sistem mekanisasi.

"Petani di Vietnam tidak lagi harus berada di sawah, semua sudah mekanisasi. Mereka punya penghasilan lain seperti dari peternakan, sayuran dan berbeda dengan di Indonesia, padi sebagai penghasilan utama para petani," katanya.

Nur menambahkan, harga gabah di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan di negara lain, tetapi petani belum sejahtera. "Dahulu harga beras 1 kg saja bisa untuk beli gula, dan kebutuhan yang lain. Sekarang harga beras 1 kg tidak dapat untuk membeli 1 kg gula, dan sistem pertanian harus mengadopsi mekanisasi karena model pertanian saat ini masih sama dengan 15 tahun yang lalu," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di petani selama Agustus 2012 turun 0,6% menjadi Rp3.862 per kg dibandingkan bulan sebelumnya Rp3.885 per kg.

Harga GKP di tingkat penggilingan turun 0,73% menjadi Rp3.929 per kg dibandingkan bulan sebelumnya Rp3.956 per kg.

Sementara itu, harga gabah kering giling (GKG) pada Agustus tahun ini di petani Rp4.378 per kg turun 1,1% dan di penggilingan Rp4.453 per kg turun 0,8%. (gor/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!